RSS Feed

Sunday, 6 February 2011

Dengan Jari yang terluka


Sebenernya sih ni puisi buatan temen gue yang ditulis di website sekolah gue
tapi berhubung menurut aku puisi ini bagus, jadi aku repost ke blog saya tercinta ini

check this out :

Dengan jari yang terluka
Kubuka pintu fajar
Saat angin begitu kencang
Menopang tubuh yang terbungkus api

Tuesday, 25 January 2011

inginku . . .


Aku ingin hujan . . .
Aku ingin hitam
Aku ingin kelam
Aku ingin bungkam
Aku ingin diam
Aku ingin tenggelam
Aku ingin malam

Wednesday, 19 January 2011

Dalam do'amu, aku . . .


Dalam do'amu malam itu kau menjelma langit tak berbatas
Kian mencakar angin yang teratas
Seakan siap menerima, menerka . . .
Tiap-tiap suara yang seakan muncul menarik jiwa
Setiap kali kau tapakkan tanganmu pada Al-ard

Hingga saatnya cahaya terbangun
Dari tenggelam hingga pada terbitnya
kau mulai menjelma bagaikan burung . . .
Terbang mengitari tiap-tiap luka, tiap tangis
tiap ratap . . .

Saturday, 1 January 2011

Batu dan Pasir


Ada dua orang pengembara sedang melakukan perjalanan. Mereka tengah melintasi padang pasir yang sangat luas. Sepanjang mata memandang hanya ada pasir membentang. Jejak-jejak kaki mereka meliuk-liuk di belakang. Membentuk kurva yang berujung di setiap langkah yang mereka tapaki. Debu-debu pasir yang beterbangan memaksa mereka berjalan merunduk.

Tiba-tiba badai datang. Hembusannya membuat tubuh dua pengembara itu limbung. Pakaian mereka mengelepak, menambah berat langkah mereka yang terbenam di pasir. Mereka saling menjaga dengan tangan berpegangan erat. Mereka mencoba melawan ganasnya badai.

Badai reda. Tapi, musibah lain menimpa mereka. Kantong bekal air minum mereka terbuka saat badai tadi. Isinya tercecer. Entah gundukan pasir mana yang meneguknya. Kedua pengembara itu duduk tercenung menyesali kehilangan itu. "Ah.., tamat riwayat kita," kata seorang di antara mereka, kita sebut saja pengembara pertama. Lalu ia menulis di pasir dengan ujung jarinya. "Kami sedih. Kami kehilangan bekal minuman kami di tempat ini." Kawannya, si pengembara dua pun tampak bingung. Namun, mencoba tabah. Membereskan perlengkapannya dan mengajak kawannya melanjutkan perjalanan.

Monday, 13 December 2010

Kepada mata itu (untuk mata pejuang palestina)


kepada mata itu . . .
aku ingin bercerita tentang samudra
tentang luasnya, tentang indahnya . . .

Kepada mata itu . . .
...kedalamnya aku ingin menerobos waktu
menembus tiap luka, tiap nanah . . .

kepada mata itu . . .
kepadanya inginku bertanya
apakah itu . . .
mungkinkah
benarkah ini lukaku . . . ?
Related Posts with Thumbnails